Di mana-mana sekarang lagi demam marketing berbasiskan pertemanan, berbagai isu atau berita yang sifatnya SARA langsung mengalami tipping point. Termasuk bocornya berita dan video tentara AS yang sedang menyerang salah satu desa di Afghanistan yang sedang menembak 2 orang yang sedang berlari di bawah helicopter tentara AS.
Serta merta news video yang dipasang di Youtube menjadi “buzz”, dan dilihat oleh jutaan pemirsa Youtube. Demikian istilah buzz menjadi popular dalam istilah marketing apalagi setelah dikeluarkan buku berjudul “buzz marketing.”
Namun terlepas dari buku, salah satu produk Google yang sedang difokuskan agar menjadi “buzz” dan menjalar seperti viral adalah Google Buzz. Awal tahun ini, Google telah menambahkan satu produk baru untuk meramaikan arena social di dunia maya. Google pun ingin meraih popularitas untuk anak barunya ini (khususnya bagi para penguna Gmail yang menggunakan webmail dalam meng-aksesnya). Google buzz juga ingin hidup berdampingan dengan Twitter dan Facebook. Dan berdampingan atau memperebutkan supermasi di jagad online.
Jika Anda memiliki akun email berbasis web, maka Anda akan melihat fitur buzz. Karena buzz adalah perangkat jejaring social dan messaging milik Google yang dirancang untuk terintegrasi dengan program email perusahaan berbasis web. Artinya agar mereka yang menggunakan Gmail dapat berbagi link, foto, video, status pesan, dan komentar yang disusun dalam bentuk “conversations” dan terlihat di inbox resipien.
BUZZ – POPULER HANYA SEHARI
Semua gaya jejaring online naik – turun. Hinggar binggar dan akhirnya biasa-biasa saja. Kalau sudah biasa-biasa saja, apa yang masih tersisa? Yang tersisa adalah korban. Ya kita mendengar berbagai korban kejahatan dan kejahatan seksual dari situs pertemanan ini. Juga termasuk yang tersisa adalah masalah privacy, spam jejaring serta masalah hak cipta.
Sebentar kita ulas beberapa perbaikan yang coba diminimal oleh google dalam produk barunya Google Buzz. Menariknya berbagai komentar seputar google buzz dilayangkan. Misalnya menarik apa yang dikatakan oleh Steve Blaze. Dia mengatakan bahwa Google Buzz akan pudar / gagal bak Edsel. Apa itu Edsel? Menurut en.Wikipedia.org/wiki/edsel adalah nama atau merek mobil yang dikeluarkan oleh perusahaan Ford Motor yang berkaitan dengan histori yang menghancurkan itulah sebabnya “Edsel” telah dijadikan stigma sinonim “kegagalan”.
Jago di
satu bidang belum tentu jago di lain bidang. Itulah yang dialami si Google, raja
mesin pencari. Dia mengalami kesulitan untuk memenangi pertarungan di media
social. Bagaimana pun Google merupakan pionir di bidang media social khususnya
dengan salah satu servicenya, Orkut (orkut.com) yang saat ini cukup popular di
India maupun Brasil, kecuali di AS sendiri.
Menarik, belum lama ini Chitika, jaringan iklan online melakukan beberapa riset
di dalam jejaringnya dan menemukan beberapa data menarik berkenaan Buzz. Data
menarik apa? Yaitu pada saat Google Buzz dilansir pada tgl 9 Feb 10, situs
pencari Google dipenuhi dengan permintaan kata keyword sejumlah 1500 queries.
seputar frase “Google Buzz”, dan ini kira-kira 15 kali lebih banyak dibandingkan
“Twitter”.
Namun tahu tidak apa yang terjadi satu hari setelahnya 10 feb 10? Cuma ada 580 users yang mengetik “google buzz, dan pada tgl 11 feb 10, merosot lagi jauh hanya 147. Dan kemudian kurang dari 10 user di seluruh dunia yang mengetikkan “google buzz” pada tgl 12 Feb 10. Demam ya? Nah berbeda dengan Twitter. Mereka yang mengetiikan kata Twitter tetap stabil dengan rata-rata 87 kali per day pencarian kata “twitter” diketikkan.
Banyak yang suka akan buzz, namun banyak users melihat ada beberapa kelemahan yang mereka harapkan diperbaiki oleh Google, demikian komentar mereka di businessinsider.com.
AGAR
Google Buzz TIDAK BERHENTI NGE-BUZZ
Apa yang terjadi pada Google Buzz, maka para pengamat media social melihat bahwa
para pengguna jejaring social menginginkan service yang akan membuatnya lebih
mudah ... bukan sekadar jenis service yang lain yang membuat mereka lebih susah.
Intinya mereka menyarankan adanya penambahan atau penyesuaian yang akan membuat
Google Buzz lebih mudah digunakan dan mendatangkan manfaat bagi siapa pun
penggunanya. Setidaknya ada 7 poin fitur di sini yg dipermasalahkan:
1.) Fitur privacy – sebelum anda melakukan setting pada Google Buzz, siapa pun bisa melihat profil Anda dan mengintip kepada siapa saja Anda melakukan chatting dan berkomunikasi lewat email. Bahaya bukan! Nah ini yang dikomplen oleh banyak user.
2.)
Fitur List - Twitter
punya fitur ini, namun Buzz belum.
3.) Fitur Groups -
Twitter punya, tetapi Buzz belum.
4.) Fitur Hide all comments
– Buzz tidak memiliki opsi until I want to see comments" option.
5.) Fitur Comment moderation
– memblok langsung dari comments (sebagaimana halnya pada FriendFeed).
6.) Fitur Content filter
– Seharusnya di Google Buzz ada opsi Don't show me any
photos from Picasa or posts from a specific user.
7.) mustinya fitur real-time tweets harus diintegrasikan juga lihat Friendfeed.
Nah kira-kira apalagi menurut Anda kelemahan dari Google Buzz? Masukkan komentar di bjoconsulting.com.Sekali lagi waktu yang akan menjawab apakah Google Buzz menjadi sesuai dengan yang diharapkan oleh para user online kecuali jika pembuatnya memenuhi demands pasar. Gimana menurut Anda, apakah Google Buzz bakal menjadi pemain yang kelak patut diperhitungkan dalam arena jejaring social?
